Ketegangan Menguntit Sindikat Narkoba

Kompas.com - 23/03/2008, 06:34 WIB

Waktu di layar ponsel Setyanto Aji menunjukkan pukul 01.45, Rabu (19/3), ketika kedua matanya melihat seorang laki-laki dengan tinggi sekitar 165 sentimeter berjalan di tepi Sungai Cengkareng Drain di belakang Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk. Laki-laki itu lalu menuruni tepian sungai. Setyanto Aji, wakil komandan satuan pengamanan sektor timur Pantai Indah Kapuk, ketika itu berpatroli dengan motor. Mencium gelagat tak baik, Setyanto menunggu dari kejauhan, namun si lelaki tak kunjung naik dari tepi sungai.

Pukul 01.55, sebuah speedboat yang bersuara sangat halus melintas di Cengkareng Drain dari arah laut lalu menepi tepat di tempat lelaki tadi turun. Selang 10 menit, sebuah mobil boks bernomor polisi B 9824 PJ datang dan menepi di lokasi yang sama.

”Saya pikir mereka mau buang mayat, saya curiga,” ujar Setyanto.

Dari kejauhan, Setyanto lalu menyaksikan sejumlah orang melempar kardus-kardus dari kapal. Kardus-kardus itu lalu dimasukkan ke mobil boks. Setyanto lalu mengajak dua anak buahnya untuk mendekati mobil boks itu.

Ketika mendekat, dari jarak 1,5 meter, Setyanto melihat ada sekitar delapan orang di speedboat itu yang lalu bergegas berusaha menutupi sisa kardus di kapal dengan terpal. Sementara tiga orang lainnya di dekat mobil boks.

”Saya lalu sempat bertanya, ’Ada apa ini’. Tetapi tidak ada yang menyahut. Mereka bergegas menutupi sisa kardus di kapal, masih sekitar puluhan kardus. Lalu kapal kabur. Mobil boksnya juga,” kata Setyanto.

Ia pun lalu membuntuti mobil boks tadi yang bergerak ke arah perumahan Pinisi. Lalu, tiba-tiba mobil boks itu berhenti. Orang di sebelah pengemudi lalu turun dan menggertak Setyanto. ”Dia bentak, ’Hah!’. Lalu tangannya seperti mau ambil pistol di pinggang,” tutur Setyanto.

Setyanto pun menjauh. Lelaki yang tadi sempat turun itu tak tahu pergi ke mana. Namun, dia segera menghubungi anggota Buser Polsek Penjaringan, Bripka Andre. Setyanto lalu menghubungi petugas satpam yang lain untuk memblokade tiga jalur keluar dari Pantai Indah Kapuk, yakni jalur ke arah Kapuk, Muara Angke, dan ke arah tol. Rupanya, tidak ada mobil boks yang melintas di ketiga jalur itu.

Namun, lalu petugas satpam yang bertugas di perumahan Camar Permai menginformasikan bahwa mobil boks itu memasuki kompleks. Jarak tempuh dari titik di Cengkareng Drain tadi ke Camar Permai hanya sekitar 10 menit berkendaraan. Rupanya, mobil boks itu memang milik salah satu penghuni di Camar Permai. Bahkan, di mobil boks itu juga tertempel stiker tanda penghuni.

Polisi pun lalu bergerak cepat dan menyusul ke Camar Permai. Pengemudi mobil boks itu, CCW, langsung diringkus dan diborgol sekitar pukul 02.45. Ketika hendak ditangkap, dia sempat berusaha menyuap Bripka Andre dengan memberi segepok uang. Upayanya itu gagal.

Di dalam mobil boks itu ditemukan 60 kardus berisi 600 kilogram atau 6 kuintal kristal sabu murni. Polisi memperkirakan nilai sabu murni sebanyak itu lebih dari setengah triliun rupiah.

”Ketika sampai di rumahnya itu, dia baru saja diborgol polisi. Saya lega,” tutur Setyanto.

Setyanto mengaku, keberhasilan penangkapan tersebut berkat kerja sama dan komunikasi yang intensif antara petugas keamanan dan kepolisian setempat sejak lama. Polisi dan petugas satpam selama ini kerap berbagi ilmu dan pengalaman dalam hal pengamanan. Setyanto pun selalu mengingatkan para anak buahnya agar selalu responsif dan peka terhadap lingkungan.

”Saya sebenarnya dulu pramuniaga di Mal Puri Indah. Tetapi di sana saya selalu saja bisa memergoki copet, jadi lama-lama saya pikir, saya jadi petugas security saja,” ujar Setyanto, yang kini bekerja di PT Wahana Mandiri Nirbaya, yang dipakai oleh pengembang Pantai Indah Kapuk untuk pengamanan kawasan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau